Vaksin Influenza Tahunan Penting untuk Lindungi dari Flu Berat – Vaksin influenza disarankan diberikan secara rutin satu kali dalam setahun
guna menurunkan risiko keparahan akibat infeksi virus flu, termasuk varian yang dikenal sebagai super flu atau Influenza A H3N2 subklade K.
Hal tersebut disampaikan dr. Ferdy Ferdian, dari RSUP Hasan Sadikin.
Menurut Ferdy, vaksinasi tahunan penting karena virus influenza memiliki kemampuan bermutasi dengan cepat sehingga varian baru
dapat muncul setiap musim. Dengan imunisasi yang diperbarui secara berkala,
tubuh diharapkan memiliki perlindungan lebih baik terhadap jenis virus yang sedang beredar.
Ia menjelaskan bahwa vaksin influenza dapat diberikan sejak usia dini. Bayi hingga orang dewasa
tetap bisa menerima vaksin tanpa batasan usia tertentu, terutama bagi individu yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid
seperti gangguan jantung, diabetes melitus, penyakit paru, maupun PPOK.
Ferdy menambahkan bahwa kelompok dengan kondisi kesehatan tersebut memiliki risiko komplikasi lebih tinggi jika terinfeksi.
Kerentanan seseorang juga dipengaruhi oleh kondisi sistem imun.
Penularan virus influenza sendiri umumnya terjadi melalui droplet atau percikan cairan dari saluran napas, misalnya saat seseorang batuk atau bersin.
Vaksin Influenza Tahunan Jenis Vaksin dan Kelompok Prioritas
Vaksin influenza untuk bayi diberikan dengan prinsip yang sama seperti pada orang dewasa, yakni minimal satu kali dalam setahun.
Dari sisi biaya, penggunaan vaksin produksi dalam negeri berada pada kisaran Rp150 ribu dan umumnya tersedia di berbagai rumah sakit.
Ferdy menjelaskan bahwa vaksin influenza terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu trivalent dan quadrivalent.
Perbedaan keduanya terletak pada jumlah subtipe virus yang dilindungi. Virus influenza sendiri terdiri dari tipe A dan B.
Pada tipe A terdapat varian seperti H3N2, sementara pada influenza B dikenal garis keturunan Yamagata dan Victoria.
Jenis vaksin dipilih berdasarkan varian virus yang diperkirakan dominan beredar pada periode tertentu.
Selain vaksinasi, masyarakat juga diingatkan untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Hal ini penting karena penularan influenza terjadi melalui droplet,
terutama ketika mobilitas masyarakat meningkat, misalnya setelah masa libur sekolah berakhir.
Tren Kasus Super Flu dan Hasil Surveilans
Sebelumnya, RSUP Hasan Sadikin Bandung melaporkan bahwa puncak kasus influenza H3N2 subklade K—yang populer disebut super flu
terjadi pada Oktober 2025. Ketua Tim Penyakit Infeksi New Emerging dan Reemerging (Pinere) RSUP Hasan Sadikin,
dr. Yovita Hartantri, SpPD(K)PTI, menyampaikan bahwa peningkatan kasus mulai terlihat sejak Agustus 2025.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel pasien dengan gejala influenza yang dikirimkan ke Kementerian Kesehatan RI,
jumlah kasus meningkat pada Agustus hingga mencapai puncak pada September dan Oktober, kemudian mulai menurun pada November.
Data tersebut berasal dari pemeriksaan laboratorium terhadap sampel pasien yang dianalisis di Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan
di Jakarta. Proses serupa juga dilakukan oleh rumah sakit lain di berbagai daerah
yang berada dalam jejaring surveilans nasional,termasuk rumah sakit rujukan vertikal.
Hasil akhir yang dirilis pada 2 Januari 2026 menunjukkan terdapat 10 kasus terkonfirmasi influenza H3N2 subklade K.
Seluruh pasien tersebut sebelumnya dirawat di RSUP Hasan Sadikin,
dengan rincian delapan kasus terjadi pada Oktober 2025 dan dua kasus pada November 2025.
Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan virus influenza.
Kombinasi antara vaksinasi rutin, surveilans laboratorium, serta penerapan perilaku hidup sehat menjadi langkah utama
untuk menekan risiko penularan dan mencegah munculnya kasus berat di masyarakat Tuna55.