Tur Dunia BTS 2026 Jadi Sasaran Penipuan Digital – Grup global BTS dikabarkan akan menjalankan rangkaian konser internasional bertajuk Arirang World Tour 2026 di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pengumuman tersebut langsung disambut antusias oleh para penggemar setia mereka, ARMY.
Di tengah kegembiraan itu, muncul ancaman baru di dunia maya. Para ahli keamanan siber menemukan adanya aktivitas penipuan yang sengaja menyasar penggemar BTS setelah kabar tur diumumkan. Modus yang digunakan tergolong rapi dan meyakinkan.
Tim Riset Ungkap Fakta Soal Pelaku
Tim riset dari Kaspersky mengungkap bahwa pelaku membuat situs tiruan yang dirancang menyerupai platform resmi fandom BTS, yakni Weverse. Tampilan halaman dibuat sangat mirip sehingga sulit dibedakan oleh pengguna awam.
Adrian Hia selaku Managing Director Asia Pasifik Kaspersky menjelaskan bahwa momen menjelang konser besar sering dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital. Menurutnya, suasana penuh antusiasme membuat banyak orang menjadi kurang waspada.
Ia menuturkan bahwa rasa gembira dan terburu-buru mendapatkan tiket sering dimanfaatkan penipu untuk menurunkan tingkat kehati-hatian calon korban. Kondisi emosional tersebut membuat orang cenderung tidak memeriksa detail dengan teliti.
Situs palsu itu dirancang sedemikian rupa agar terlihat autentik. Penggemar yang tidak jeli bisa saja percaya dan melakukan pembelian tiket atau pendaftaran keanggotaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Dalam laporan perusahaan keamanan siber yang dirilis Sabtu (21/2/2026), disebutkan bahwa halaman tersebut tidak memiliki hubungan apa pun dengan HYBE, BTS, maupun Weverse. Seluruh konten dibuat semata-mata untuk memancing transaksi sekaligus mengumpulkan data keuangan pengguna.
Risikonya bukan hanya kerugian finansial. Saat korban memasukkan data kartu atau informasi pembayaran, pelaku dapat memanfaatkan data itu untuk kejahatan lanjutan.
Peneliti juga menemukan bahwa data pribadi yang berhasil dikumpulkan berpotensi diperjualbelikan di dark web. Kebocoran kredensial membuka peluang bagi pelaku melakukan serangan lanjutan yang lebih terarah dan berulang.
Adrian menegaskan bahwa memasuki tahun 2026 dengan banyaknya konser pop di kawasan Asia Pasifik, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan serta mengambil langkah perlindungan sejak dini. Ia juga menyoroti bahwa perkembangan teknologi AI membuat metode penipuan semakin canggih.
Fenomena ini menjadi peringatan serius, terutama bagi penggemar yang ingin mendapatkan akses awal atau keanggotaan eksklusif secepat mungkin.
Tips Aman Membeli Tiket Konser BTS
Agar tidak terjebak penipuan, Kaspersky menyarankan beberapa langkah pencegahan berikut:
Pastikan keaslian situs penjualan sebelum melakukan transaksi. Cek alamat URL, ejaan nama brand, dan status kemitraan resmi.
Gunakan metode pembayaran terpercaya dan hindari transfer langsung ke rekening pribadi yang mencurigakan.
Manfaatkan perangkat keamanan digital yang dapat mendeteksi situs berbahaya atau phishing.
Aktifkan verifikasi dua langkah pada layanan keuangan maupun akun pembayaran online, serta rutin memantau aktivitas rekening.
Gunakan layanan VPN tepercaya untuk menjaga privasi alamat IP dan mengurangi risiko kebocoran data saat berselancar di internet.
Dengan maraknya konser besar sepanjang 2026, khususnya di wilayah Asia Pasifik, penggemar disarankan lebih teliti sebelum mengklik tautan atau melakukan pembayaran apa pun.
31 Persen Warga Indonesia Memilih Curhat ke AI Saat Sedang Sedih
Teknologi kecerdasan buatan yang awalnya dikenal sebagai alat bantu produktivitas kini juga berperan sebagai tempat berbagi perasaan. Banyak orang memanfaatkannya untuk mencurahkan emosi ketika merasa cemas, sedih, atau membutuhkan teman bicara.
Laporan terbaru Kaspersky yang dirilis November 2025 menunjukkan bahwa 31 persen responden di Indonesia mengaku menggunakan AI sebagai tempat bercerita ketika suasana hati sedang buruk. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata global yang berada di angka 29 persen.
Fenomena ini paling terlihat pada kelompok usia muda. Sebanyak 35 persen responden dari kalangan Gen Z dan milenial mengatakan mereka lebih nyaman berbicara dengan AI saat kondisi emosional tidak stabil. Sementara itu, hanya 19 persen responden berusia 55 tahun ke atas yang melakukan hal serupa.
Selama ini AI lebih sering dipakai untuk kebutuhan praktis. Survei yang sama mencatat bahwa 74 persen responden global berencana memanfaatkan AI secara lebih intens selama musim liburan akhir 2025 hingga awal 2026.
Data penggunaan menunjukkan 56 persen orang memanfaatkan AI untuk mencari ide resep masakan. Sekitar 54 persen menggunakannya untuk menemukan rekomendasi restoran dan penginapan.
Selain itu, 50 persen responden memakai AI untuk mendapatkan inspirasi hadiah serta dekorasi, dan jumlah yang sama menggunakannya untuk menyusun rencana aktivitas selama masa liburan.
Risiko di Balik Kebiasaan Curhat ke AI
Meski terasa nyaman, Kaspersky mengingatkan bahwa percakapan emosional tetap merupakan bentuk data digital. Banyak chatbot dimiliki perusahaan komersial yang memiliki kebijakan pengumpulan data berbeda-beda.
Vladislav Tushkanov dari Kaspersky AI Technology Research Center menekankan bahwa perkembangan model bahasa besar membuat AI semakin mampu berdialog secara natural dengan pengguna.
Namun ia mengingatkan bahwa sistem tersebut belajar dari kumpulan data, sebagian besar berasal dari internet. Artinya, AI masih mungkin mengulang kesalahan atau bias yang terdapat pada data pelatihan.
Ia menyarankan agar pengguna tetap berpikir kritis saat menerima saran dari AI serta tidak membagikan informasi pribadi secara berlebihan. Tuna55