Saat Gubernur Terkaya di Indonesia Pesan Kebaya, Ini Permintaan Khususnya – Penampilan kerap menjadi bagian penting dari citra seorang pemimpin. Selain prestasi dan kebijakan, cara berpakaian juga dapat mencerminkan karakter, nilai, dan pesan yang ingin disampaikan kepada publik. Prinsip inilah yang tampaknya dipegang oleh Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, yang dikenal tidak hanya karena posisinya tetapi juga karena gaya busananya yang konsisten menonjolkan identitas budaya Indonesia.
Meski disebut sebagai salah satu kepala daerah dengan kekayaan tertinggi di Indonesia dengan nilai aset sekitar Rp900 miliar dari bisnis keluarga, Sherly justru tidak memilih label mewah internasional untuk menunjang penampilannya.
Sebaliknya, ia lebih sering mengenakan karya desainer lokal sebagai bentuk dukungan nyata terhadap industri kreatif Tanah Air. Pilihan ini membuatnya dikenal sebagai figur publik yang memadukan status sosial tinggi dengan kesadaran budaya dan nasionalisme dalam berbusana.
Dukungan Nyata untuk Desainer Lokal
Beberapa unggahan di akun media sosial resminya memperlihatkan Sherly tampil dalam balutan busana koleksi Lunar 2026 rancangan desainer Indonesia, Wilsen Willim, yang dirilis untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Penampilannya terlihat elegan sekaligus modern, namun tetap mempertahankan unsur tradisional yang kuat.
Tak hanya satu nama, Sherly juga mempercayakan penampilannya kepada desainer kebaya Intan Avantie. Dalam sebuah momen perayaan Hari Ibu tahun lalu, ia terlihat mengenakan kebaya berwarna lilac yang lembut dan anggun. Menariknya, kebaya tersebut sebenarnya bukan dibuat khusus sejak awal untuk dirinya.
Menurut Intan, saat itu Sherly membutuhkan kebaya dalam waktu singkat. Karena keterbatasan waktu dan jarak, sang desainer memutuskan menggunakan busana yang sudah setengah jadi lalu menyelesaikannya secara kilat. Proses pengerjaan dipercepat hingga hanya dua hari agar kebaya tersebut bisa dikenakan tepat waktu sesuai agenda resmi.
Permintaan Khusus: Sopan dan Bersahaja
Meski tidak memesan dari nol, Sherly tetap terlibat aktif dalam proses kreatif. Ia menyampaikan detail keinginannya secara jelas kepada perancang. Baginya, kebaya bukan sekadar pakaian formal, melainkan simbol perempuan Indonesia yang harus mencerminkan kesopanan dan keanggunan.
Ia secara khusus meminta agar potongan kebaya tidak terlalu terbuka di bagian dada serta memilih bahan lace dengan motif rapat agar tidak terlihat transparan. Permintaan ini menunjukkan preferensinya terhadap gaya yang elegan namun tetap santun, sejalan dengan citra yang ingin ia tampilkan sebagai pejabat publik.
Intan sendiri mengaku terkesan dengan insting gaya Sherly. Ia menilai perempuan berusia 43 tahun itu piawai menyesuaikan busana dengan acara yang dihadiri. Cara Sherly memadukan pakaian dan aksesori dianggap natural, tidak berlebihan, namun tetap memancarkan kepercayaan diri.
Gaya Personal yang Konsisten
Meski telah beberapa kali membuatkan kebaya untuk sang gubernur, Intan mengungkapkan bahwa mereka belum pernah bertemu langsung karena kendala lokasi. Sang desainer berharap suatu hari bisa bertatap muka dengan kliennya tersebut.
Kisah ini menunjukkan bahwa gaya berbusana bisa menjadi bahasa nonverbal yang kuat bagi seorang pemimpin. Dalam kasus Sherly Tjoanda, pilihan mengenakan kebaya karya desainer lokal bukan hanya soal estetika, melainkan juga bentuk pernyataan identitas, dukungan industri kreatif, serta cara menyampaikan nilai kesederhanaan di tengah citra kekayaan yang melekat padanya. Tuna55