Produksi Sawit Berpotensi Turun, Ini Gara-Garanya – Industri kelapa sawit global menghadapi tekanan baru yang membuat proyeksi produksi ke depan cenderung melemah. Sejumlah laporan memperkirakan produksi minyak sawit Indonesia bisa turun sekitar 4–5% pada 2026 akibat berbagai hambatan struktural dan kebijakan.
Meski Indonesia masih menjadi produsen utama dunia, tanda-tanda perlambatan sudah terlihat sejak beberapa tahun terakhir, termasuk penurunan produksi tahunan sekitar 3,8% pada 2024 dibandingkan 2023.
Penurunan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akibat kombinasi faktor agronomis, ekonomi, hingga kebijakan energi yang memengaruhi rantai pasok sawit dari hulu sampai hilir.
Faktor Utama Penyebab Produksi Sawit Berpotensi Turun
- Usia Tanaman dan Produktivitas Kebun
Banyak perkebunan sawit di Asia Tenggara telah memasuki usia tua, sehingga produktivitasnya menurun. Penelitian satelit menunjukkan sebagian perkebunan di Malaysia sudah berumur lebih dari 15 tahun dan mengalami penurunan hasil.
Tanaman tua membutuhkan replanting, tetapi proses ini mahal dan memakan waktu sehingga tidak semua petani mampu melakukannya.
- Harga Input Naik, Perawatan Berkurang
Kenaikan harga pupuk dan herbisida membuat petani mengurangi perawatan kebun. Dampaknya, produksi tandan buah segar (TBS) ikut turun karena pemupukan tidak optimal.
Kondisi ini paling terasa pada petani kecil yang hanya memiliki lahan 2–4 hektare dan bergantung pada harga pasar.
- Fluktuasi Harga CPO Global
Harga TBS sangat bergantung pada harga minyak sawit mentah (CPO) internasional. Ketika harga CPO acuan turun, harga TBS di tingkat petani ikut turun, seperti yang terjadi pada awal 2026 di Sumatera Utara.
Harga rendah membuat petani menunda perawatan atau investasi kebun sehingga berpotensi menekan produksi jangka panjang.
Faktor Lingkungan dan Iklim
- Cuaca Ekstrem dan Bencana Alam
Cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, atau anomali iklim dapat menghambat panen dan distribusi. Bahkan di wilayah sentra sawit, gangguan cuaca bisa menurunkan hasil bulanan dan memengaruhi stok nasional.
- Perubahan Iklim Jangka Panjang
Kajian ilmiah menunjukkan perubahan iklim memengaruhi produktivitas sawit melalui perubahan suhu, curah hujan, dan kesuburan tanah.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi akumulatif dalam beberapa musim panen.
Faktor Kebijakan dan Permintaan Energi
- Program Biodiesel
Kebijakan mandatori biodiesel seperti B40 atau rencana B50 meningkatkan konsumsi domestik sawit. Permintaan tinggi di dalam negeri dapat menekan pasokan ekspor dan membuat industri harus menyesuaikan produksi.
- Regulasi dan Tekanan Lingkungan
Isu keberlanjutan, pembatasan ekspansi lahan, serta regulasi deforestasi global membuat pertumbuhan produksi tidak lagi secepat dekade sebelumnya. Dataset pemetaan sawit bahkan dibuat untuk memantau ekspansi dan dampaknya terhadap lingkungan.
Dampak Jika Produksi Terus Turun
Produksi Sawit Berpotensi Turun tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga industri pangan, energi, dan ekspor. Indonesia memiliki areal sawit sekitar 16,38 juta hektare dengan produksi sekitar 47 juta ton, sehingga perubahan kecil saja dapat memengaruhi pasar global.
Jika produksi turun sementara permintaan tetap tinggi, harga minyak sawit berpotensi naik dan memicu inflasi pada produk turunan seperti minyak goreng dan bahan pangan olahan.
Potensi penurunan produksi sawit bukan disebabkan satu faktor tunggal, melainkan kombinasi usia tanaman, biaya produksi, harga global, cuaca ekstrem, serta kebijakan energi dan lingkungan. Tanpa strategi peremajaan kebun, efisiensi biaya, dan adaptasi iklim, tren penurunan bisa berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.
Industri sawit kini berada di persimpangan: antara menjaga produktivitas dan memenuhi tuntutan keberlanjutan global Tuna55.