Pemulihan Listrik Pascabencana di Aceh Hampir Rampung – Proses pemulihan pasokan listrik di Provinsi Aceh setelah bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 kini memasuki tahap akhir. PT PLN (Persero) memastikan sebagian besar wilayah terdampak telah kembali menikmati aliran listrik, menyisakan hanya sejumlah kecil desa yang masih menunggu perbaikan jaringan permanen.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menyampaikan bahwa hingga awal Februari 2026, listrik telah pulih di 6.487 desa dari total sekitar 6.500 desa terdampak. Artinya, sekitar 99,8 persen wilayah sudah kembali teraliri listrik. Saat ini, hanya tersisa 13 desa yang masih mengalami gangguan pasokan akibat kerusakan infrastruktur yang belum sepenuhnya tertangani.
Menurut Eddi, delapan dari desa yang belum tersambung listrik berada di Kabupaten Aceh Tengah. Sementara lima desa lainnya tersebar di beberapa wilayah berbeda, yakni Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Barat, dan Aceh Tamiang. Kondisi geografis dan tingkat kerusakan infrastruktur di wilayah tersebut menjadi faktor utama yang memperlambat proses pemulihan jaringan listrik.
Jaringan Distribusi Permanen Tetap Diupayakan
Meski jaringan distribusi permanen belum sepenuhnya pulih, kebutuhan listrik masyarakat di desa-desa tersebut tetap diupayakan terpenuhi. PLN bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyediakan genset darurat sebagai solusi sementara. Kehadiran pembangkit listrik portabel ini memungkinkan aktivitas warga tetap berjalan, mulai dari penerangan rumah hingga operasional fasilitas umum penting.
Eddi menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam proses pemulihan bukan hanya kerusakan jaringan listrik, melainkan akses menuju lokasi terdampak yang masih terhambat. Data menunjukkan terdapat sedikitnya 171 titik longsor yang menutup jalur transportasi darat. Selain itu, sebanyak 14 jembatan dilaporkan mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dilalui kendaraan, terutama kendaraan berat pengangkut material perbaikan.
Situasi tersebut menyebabkan mobilisasi alat berat, tiang listrik, kabel, serta perlengkapan teknis lainnya menjadi sangat sulit. Dalam beberapa kasus, tim teknis harus menunggu hingga jalur dibuka atau diperbaiki sebelum bisa masuk ke lokasi untuk melakukan perbaikan jaringan. Hal ini tentu berdampak pada lamanya waktu pemulihan di wilayah terpencil dan terisolasi.
PLN menegaskan bahwa keselamatan petugas menjadi prioritas utama selama proses perbaikan berlangsung. Kondisi medan yang masih labil akibat longsor dan cuaca yang tidak menentu membuat pekerjaan teknis berisiko tinggi. Oleh karena itu, setiap langkah pemulihan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keamanan sekaligus kesiapan infrastruktur akses.
Meski menghadapi berbagai kendala, PLN memastikan komitmennya untuk menyelesaikan pemulihan jaringan permanen secepat mungkin. Tim teknis saat ini disiagakan di titik-titik terdekat dengan lokasi longsor atau jalur terputus. Begitu akses dinyatakan aman dan dapat dilalui, mereka akan langsung bergerak memperbaiki tiang listrik, mengganti kabel yang rusak, serta menormalkan sistem distribusi.
Upaya Percepatan Pemulihan Listrik
Upaya percepatan pemulihan ini juga melibatkan koordinasi lintas instansi, termasuk pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya. Kolaborasi tersebut penting untuk memastikan proses pembukaan akses jalan, perbaikan jembatan, serta distribusi logistik berjalan lancar sehingga pekerjaan teknis kelistrikan dapat segera dilaksanakan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya bergantung pada satu sektor, tetapi memerlukan kerja sama berbagai pihak. Infrastruktur jalan, jembatan, dan komunikasi menjadi elemen krusial yang menentukan kecepatan pemulihan layanan dasar seperti listrik.
Masyarakat di wilayah terdampak pun diimbau untuk tetap bersabar dan berhati-hati, terutama di area yang masih dalam tahap perbaikan. PLN berharap dalam waktu dekat seluruh desa yang tersisa dapat kembali menikmati pasokan listrik normal tanpa bergantung pada genset darurat.
Dengan capaian pemulihan mencapai hampir 100 persen, progres ini menjadi indikator positif bahwa upaya penanganan pascabencana di Aceh berjalan efektif. Meski masih ada tantangan di beberapa lokasi terpencil, optimisme tetap tinggi bahwa seluruh jaringan listrik akan pulih sepenuhnya dalam waktu tidak lama lagi. Tuna55