You are currently viewing Kronologi Bocah 12 Tahun Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri dengan Air Panas

Kronologi Bocah 12 Tahun Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri dengan Air Panas

Kronologi Bocah 12 Tahun Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri dengan Air PanasPeristiwa memilukan menimpa NS (12), seorang anak asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kepergiannya secara tragis memicu kesedihan mendalam sekaligus kemarahan publik setelah muncul dugaan bahwa korban meninggal akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ibu tirinya.

Kasus ini dengan cepat menyebar luas di media sosial dan menjadi perhatian masyarakat. Banyak warganet menyoroti dugaan adanya penganiayaan berat yang dialami korban sebelum meninggal dunia.

Kejadian bermula saat ayah korban, Anwar Satibi (38), tengah berada di luar kota karena pekerjaan. Ia bekerja sebagai teknisi pemasangan gigi panggilan dan sudah dua hari meninggalkan rumah ketika menerima panggilan telepon mendadak dari istrinya.

Dalam percakapan tersebut, istrinya meminta Anwar segera pulang karena kondisi anaknya disebut sedang sakit. Ia mengatakan bahwa sang anak mengalami demam tinggi dan mulai mengigau. Mendengar kabar itu, Anwar langsung diliputi rasa cemas dan bergegas pulang.

Namun setibanya di rumah, ia justru mendapati kondisi anak sulungnya jauh berbeda dari sebelumnya. Anwar mengaku sangat terkejut melihat tubuh anaknya yang tampak penuh luka melepuh, padahal sebelum ia berangkat, kondisi korban dalam keadaan sehat.

Menurut penuturannya, sebelum ia meninggalkan rumah menuju Sukabumi, tidak ada tanda-tanda sakit pada anaknya. Tetapi ketika kembali, kondisi kulit korban sudah mengalami luka yang parah.

Luka di Tubuh Korban Menimbulkan Kecurigaan

Melihat keadaan tersebut, Anwar langsung menanyakan penyebab luka pada tubuh anaknya kepada sang istri. Namun jawaban yang ia terima membuatnya merasa janggal.

Istrinya menyebut bahwa kondisi kulit anak itu rusak akibat panas tinggi yang dialami saat demam. Penjelasan itu membuat Anwar ragu, tetapi ia tetap fokus menyelamatkan anaknya terlebih dahulu.

Tanpa menunggu lama, ia membawa korban ke RS Jampang Kulon karena kondisi anaknya semakin memburuk. Saat itu kondisi korban sudah sangat kritis sehingga membutuhkan penanganan medis segera.

Pengakuan Terakhir Korban

Saat berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), korban sempat memberikan keterangan kepada ayahnya. Dalam kondisi lemah, ia mengungkap bahwa dirinya dipaksa meminum air panas.

Pengakuan tersebut menjadi percakapan terakhir antara ayah dan anak itu. Setelah menjalani penanganan awal di IGD, korban dipindahkan ke ruang perawatan intensif (ICU). Namun tak lama kemudian, nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Kepergian korban meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama sang ayah yang merasa kehilangan besar sekaligus dihantui rasa penyesalan karena tidak berada di rumah saat kejadian berlangsung.

Riwayat Dugaan Kekerasan Sebelumnya

Anwar juga mengungkap bahwa peristiwa kekerasan terhadap anaknya bukan kali pertama terjadi. Ia mengaku pernah melaporkan istrinya ke pihak kepolisian setahun sebelumnya karena diduga memukul korban.

Menurut ceritanya, konflik kerap terjadi antara anaknya dan anak lain di rumah. Dalam beberapa pertengkaran, korban disebut sering menjadi pihak yang mendapat perlakuan kasar.

Insiden penganiayaan yang dilaporkan tahun lalu bermula dari pertengkaran tersebut. Saat itu, laporan telah dibuat ke Polres setempat. Namun kasus tersebut akhirnya diselesaikan melalui jalur mediasi setelah sang istri memohon agar perkara tidak dilanjutkan.

Meski berdamai, Anwar menyebut laporan lama sebenarnya belum sepenuhnya dicabut. Hal ini kini kembali menjadi sorotan setelah tragedi terbaru terjadi.

Keluarga Desak Proses Hukum dan Autopsi

Dengan adanya dugaan kekerasan berulang, Anwar kini bertekad mencari keadilan atas kematian anaknya. Ia meminta proses autopsi dilakukan agar penyebab kematian dapat dipastikan secara ilmiah dan transparan.

Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin menuduh tanpa bukti. Oleh karena itu, ia memilih jalur medis dan hukum agar fakta sebenarnya dapat terungkap dengan jelas.

Saat ini laporan resmi telah disampaikan ke Polsek Jampangkulon. Pihak keluarga berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus tersebut dan memberikan sanksi tegas kepada siapa pun yang terbukti bertanggung jawab.

Menurut Anwar, jika dugaan tersebut terbukti, ia ingin kasus ini menjadi pelajaran sekaligus efek jera agar tidak ada lagi anak yang menjadi korban kekerasan di lingkungan keluarga. Ia menekankan bahwa hukum harus ditegakkan secara adil tanpa pandang bulu.

Kasus ini kembali mengingatkan publik bahwa kekerasan terhadap anak sering kali terjadi di lingkungan terdekat korban. Perhatian masyarakat kini tertuju pada proses penyelidikan yang diharapkan mampu mengungkap kebenaran sekaligus menghadirkan keadilan bagi korban. Tuna55

Leave a Reply