You are currently viewing Heboh! Taqy Malik Diklaim Pernah Diburu Polisi Madinah, Randy Permana Ungkap Pengalaman Lama

Heboh! Taqy Malik Diklaim Pernah Diburu Polisi Madinah, Randy Permana Ungkap Pengalaman Lama

Taqy Malik Diklaim Pernah Diburu Polisi MadinahPerselisihan antara hafiz Al-Qur’an sekaligus figur publik media sosial, Taqy Malik, dengan fotografer serta pemandu tur di Arab Saudi, Randy Permana, semakin memanas dan menyita perhatian publik. Konflik yang awalnya berawal dari kritik soal dugaan ketidakjelasan program wakaf Al-Qur’an kini berkembang menjadi polemik panjang yang membuka cerita lama tentang masa lalu sang influencer.

Pengakuan Randy Permana yang Mengejutkan

Randy Permana mengungkap klaim mengejutkan bahwa Taqy Malik pernah menjadi perhatian aparat keamanan di Madinah. Ia bahkan mengaku pernah mendampingi Taqy dalam situasi tertentu agar tidak berurusan langsung dengan pihak berwenang. Pernyataan tersebut disampaikan Randy dalam sebuah wawancara di kanal YouTube hiburan dan kemudian ramai dikutip berbagai media.

Menurut Randy, peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan tahun sebelumnya. Ia menyebut saat itu Taqy sempat dicari aparat karena melakukan kegiatan berbagi makanan di kawasan Mamsha Quba, Madinah. Randy menegaskan bahwa aturan di Arab Saudi terkait pengumpulan dana maupun distribusi bantuan sangat ketat dan membutuhkan izin resmi dari otoritas setempat.

Ia menjelaskan bahwa sebagai teman, dirinya sudah beberapa kali mengingatkan Taqy tentang pentingnya memahami regulasi setempat. Randy mengklaim bahwa ketika situasi menjadi tegang, justru dirinya yang berada di samping Taqy untuk memastikan keadaan tetap aman dan tidak berujung masalah hukum. Ia juga menambahkan bahwa Taqy saat itu tidak tertangkap langsung oleh petugas sehingga tidak terjadi proses hukum lanjutan, meski menurutnya data pelanggaran bisa saja masih tersimpan di sistem otoritas.

Terbongkarnya Pratek Haram Taqy Malik

Polemik ini bermula ketika Randy mengkritik transparansi program wakaf Al-Qur’an yang dijalankan oleh Taqy Malik. Ia menilai harga wakaf yang ditawarkan kepada masyarakat jauh lebih tinggi dibanding harga pasaran mushaf di Madinah. Tuduhan tersebut memicu perdebatan sengit di media sosial karena melibatkan isu sensitif, yakni donasi keagamaan.

Alih-alih berakhir dengan klarifikasi terbuka, komunikasi antara keduanya justru disebut semakin merenggang. Randy mengungkap bahwa ajakan diskusi langsung, termasuk melalui siaran langsung di media sosial, tidak mendapat respons yang diharapkan. Situasi ini membuat konflik berkembang menjadi saling sindir di platform digital.

Merasa tujuannya hanya ingin memberikan edukasi kepada jamaah agar memahami harga sebenarnya, Randy kini mengaku siap mengambil langkah lebih tegas. Ia bahkan menantang Taqy untuk datang langsung ke Madinah guna memeriksa data harga Al-Qur’an yang ia miliki. Namun, ia juga memperingatkan bahwa jika Taqy kembali melakukan aktivitas penggalangan dana atau kegiatan serupa tanpa izin resmi di wilayah tersebut, maka konsekuensinya bisa berujung pada pelaporan kepada pihak berwenang.

Randy menegaskan bahwa tidak ada masalah jika Taqy datang ke Tanah Suci hanya untuk beribadah tanpa melakukan aktivitas lain. Namun, menurutnya situasi akan berbeda jika terdapat kegiatan yang dianggap melanggar aturan. Ia menyatakan siap menyerahkan bukti promosi maupun dokumentasi yang dimilikinya kepada otoritas jika diperlukan.

Ia juga mengingatkan bahwa konsekuensi hukum di Arab Saudi bisa sangat serius. Pelanggaran tertentu, kata Randy, berpotensi berujung sanksi seperti penahanan atau deportasi bagi pelaku yang terbukti melanggar aturan.

Perseteruan ini mulai viral setelah Randy mempublikasikan dugaan kejanggalan harga wakaf Al-Qur’an yang ditawarkan pihak manajemen Taqy Malik. Randy yang telah tinggal sekitar lima tahun di Arab Saudi mengaku memiliki data pembelian asli serta dokumen transaksi yang menunjukkan harga mushaf wakaf di toko sekitar Masjid Nabawi sebenarnya jauh lebih murah dibandingkan harga yang dipromosikan kepada publik.

Ia menyebut harga yang ditawarkan program tersebut diduga sekitar 80 riyal atau setara ratusan ribu rupiah. Sementara menurut pengalamannya, mushaf cetakan Madinah untuk keperluan wakaf biasanya dijual di kisaran 30 hingga 40 riyal di toko-toko setempat. Perbedaan angka ini yang kemudian memicu tanda tanya dan menjadi bahan perdebatan luas di kalangan warganet.

Taqy Malik bersama Keluarganya Bantah Tuduhan

Di sisi lain, pihak Taqy Malik bersama keluarganya telah membantah tudingan tersebut. Mereka menyatakan informasi yang beredar tidak benar dan menyebut klaim Randy sebagai hoaks. Taqy bahkan sempat mengunggah tangkapan bukti yang menunjukkan bahwa Randy juga pernah terlibat dalam kegiatan penitipan wakaf, seolah ingin menunjukkan bahwa kritik tersebut tidak sepenuhnya objektif.

Menanggapi hal itu, Randy tetap santai dan menyatakan siap menghadapi segala konsekuensi atas pernyataannya, termasuk jika harus berurusan dengan jalur hukum. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut karena merasa berada di pihak yang benar dan memiliki data pendukung.

Hingga kini, polemik antara keduanya masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak pihak menunggu klarifikasi lebih lanjut atau kemungkinan mediasi agar konflik tidak semakin melebar. Namun yang jelas, kasus ini menunjukkan bagaimana isu transparansi donasi, regulasi negara, serta reputasi publik figur dapat saling beririsan dan memicu perdebatan luas di ruang digital. Tuna55

Leave a Reply