Gen Z di China Borong Replika Artefak Museum – Artefak museum biasanya tersimpan rapi di balik kaca pajangan, menunggu dikagumi para pengunjung. Namun di China, benda-benda bersejarah itu kini hadir dalam bentuk berbeda: replika artistik yang justru menjadi incaran anak muda. Produk-produk ini dijual di toko suvenir budaya museum, dikenal sebagai wenchuang, dan semakin populer karena sering dipamerkan di media sosial.
Fenomena Gen Z di China Ekspresikan Rasa Bangga
Fenomena ini dinilai sebagai salah satu cara generasi muda mengekspresikan rasa bangga terhadap budaya mereka, seiring posisi China yang terus menguat sebagai kekuatan global. Salah satu produk paling laris adalah magnet kulkas berbentuk fengguan atau mahkota phoenix milik Permaisuri Xiaoduan dari Dinasti Ming (1368–1644), yang aslinya dipamerkan di Museum Nasional China. Sejak diluncurkan pada Juli 2024, lebih dari 2,3 juta unit telah terjual. Bahkan, ada penggemar yang rela mengantre sejak pukul 6 pagi di tengah hujan demi mendapatkannya.
Mulai 2026, mahkota phoenix tersebut bersama sembilan artefak ikonik lain akan memiliki etalase khusus di platform e-commerce Tmall. Koleksi itu mencakup “mangkuk nasi emas” dari Dinasti Tang (618–907) milik Museum Sejarah Shaanxi, serta pedang terkenal milik Raja Fuchai dari negara Wu yang berusia sekitar 2.500 tahun. Perusahaan induk Tmall, Alibaba, mengumumkan pada 3 Februari bahwa mereka akan berinvestasi untuk menciptakan lebih dari 100 produk baru sekaligus mendorong kolaborasi antara museum dan berbagai merek.
Produk wenchuang hadir dalam beragam bentuk seperti boneka plush, pembatas buku, gantungan kunci, mug, dan banyak lagi. Tren ini berkaitan erat dengan berkembangnya “ekonomi emosional” di China, yaitu kecenderungan konsumen membeli produk yang memberikan nilai perasaan seperti kebahagiaan, kenyamanan, atau penghilang stres. Contohnya termasuk membuka kotak misteri (blind box), membeli barang bernuansa sejarah, atau menghadiri konser.
Di dunia maya, banyak warganet memuji keindahan suvenir budaya tersebut dan mengungkapkan rasa senang saat memilikinya. Tidak sedikit pula yang tertarik mempelajari kisah di balik replika itu. Misalnya, Permaisuri Xiaoduan dikenal sebagai ratu dengan masa pemerintahan terlama dalam sejarah China, memegang mahkota selama 42 tahun meski tidak memiliki putra.
Potensi Gen Z Dongkrak Potensi Ekonomi
Pemerintah China melihat potensi ekonomi emosional ini sebagai peluang untuk mendorong konsumsi domestik pada 2026, berdasarkan berbagai rapat tingkat provinsi sejak Januari. Laporan lembaga riset iiMedia memperkirakan nilai ekonomi emosional negara itu akan melampaui 4,5 triliun yuan pada 2029, hampir dua kali lipat dibanding 2,3 triliun yuan pada 2024.
Data resmi Mei 2025 menunjukkan pendapatan toko suvenir museum melonjak 63,7 persen secara tahunan menjadi 3,428 miliar yuan pada 2024. Bahkan, penjualan enam bulan pertama 2025 sudah melampaui total tahun sebelumnya dengan angka mencapai 9,7 miliar yuan. Media China Newsweek juga melaporkan bahwa jumlah perusahaan produsen produk budaya dan kreatif meningkat lima kali lipat dalam enam tahun terakhir menjadi sekitar 45.000.
Riset konsumen menunjukkan generasi muda menjadi pendorong utama tren ini. Mereka yang lahir setelah tahun 2000 menyumbang 49,7 persen responden yang tertarik membeli produk kreatif museum, sementara kelompok kelahiran 1990-an mencapai 29,4 persen. Sebanyak 61,7 persen responden mengatakan “nilai emosional” adalah alasan utama mereka membeli suvenir tersebut.
Asisten Profesor Rhonwyn Vaudrey, pakar budaya konsumen dari Xi’an Jiaotong-Liverpool University di Suzhou, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi emosional didorong oleh kesadaran konsumen untuk memenuhi kebutuhan yang melampaui status materi. Ia menilai kebijakan pemerintah yang mempromosikan warisan budaya tak benda dan menghidupkan kembali pasar jajanan tradisional membantu membangun identitas budaya baru yang lebih relevan bagi generasi muda.
Menurutnya, generasi muda China kini juga semakin individualistis dalam mengekspresikan diri dan membentuk identitas pribadi. Sejak 2012, Presiden Xi Jinping telah mendorong rakyat China untuk membangun kepercayaan diri budaya sebagai cara menumbuhkan kebanggaan nasional. Pesan pemerintah yang konsisten dan investasi di sektor terkait melahirkan gelombang nasionalisme yang dikenal sebagai guochao, yakni tren anak muda mencintai merek lokal, merayakan produk “Made in China”, dan kembali terhubung dengan warisan budaya mereka.
Bagi sebagian orang asing yang tinggal di China, suvenir wenchuang bahkan sering dijadikan hadiah persahabatan. Hadiah tersebut biasanya disertai cerita asal-usul benda, disampaikan dengan penuh kebanggaan. Seorang kolektor berusia 20-an pernah mengatakan bahwa barang-barang itu menumbuhkan rasa bangga karena membantunya memahami warisan budaya yang memiliki sejarah lebih dari 5.000 tahun.
Melihat antusiasme generasi muda serta data penjualan yang terus meningkat, tren belanja emosional terhadap suvenir budaya tampaknya akan terus berlanjut. Namun, sejauh mana fenomena ini mampu mendorong konsumsi nasional secara keseluruhan masih menjadi pertanyaan yang menunggu jawabannya. Tuna55