Gaya Hidup Laki-Laki Lebih Berdampak pada Lingkungan, Ini Penjelasan Studi Terbaru – Di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap perubahan iklim, para peneliti semakin menyoroti faktor-faktor tak terduga yang memengaruhi besarnya emisi karbon. Selama ini, perhatian publik banyak tertuju pada sektor energi, industri, dan transportasi. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan individu—termasuk yang berkaitan dengan identitas gender—juga memainkan peran penting dalam menentukan jejak karbon seseorang.
Sebuah studi kolaboratif antara London School of Economics dan Institut Polytechnique de Paris mengungkap temuan yang cukup mencolok. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa laki-laki menghasilkan emisi karbon sekitar 18 persen lebih tinggi dibandingkan perempuan. Angka ini tetap konsisten bahkan setelah peneliti mengoreksi variabel lain seperti tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, serta jumlah anggota keluarga dalam rumah tangga.
Temuan ini didasarkan pada analisis data lebih dari 15.000 responden yang dilibatkan dalam survei berskala besar. Para peneliti meneliti pola konsumsi peserta secara rinci, mulai dari kebiasaan makan hingga pilihan transportasi sehari-hari. Hasilnya tidak hanya memberikan angka statistik, tetapi juga membuka diskusi luas mengenai hubungan antara gaya hidup, norma sosial, dan tanggung jawab lingkungan.
Konsumsi Daging Merah Jadi Faktor Utama
Salah satu faktor terbesar yang menjelaskan perbedaan emisi antara laki-laki dan perempuan adalah pola makan, khususnya konsumsi daging merah. Penelitian menemukan bahwa laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi jenis makanan ini dibandingkan perempuan. Padahal, produksi daging merah dikenal sebagai salah satu aktivitas pangan dengan jejak karbon tertinggi.
Dalam data penelitian, daging merah hanya menyumbang sekitar 13 persen dari total konsumsi makanan responden. Namun menariknya, produk ini bertanggung jawab atas sekitar 70 persen selisih emisi makanan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, meskipun porsinya relatif kecil dalam pola makan, dampaknya terhadap lingkungan sangat besar.
Produksi daging merah memerlukan sumber daya dalam jumlah besar, termasuk lahan, air, dan pakan ternak. Selain itu, peternakan sapi menghasilkan gas metana, yang memiliki efek pemanasan jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek. Kombinasi faktor ini membuat konsumsi daging merah menjadi salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca global.
Transportasi Pribadi dan Pilihan Kendaraan
Selain pola makan, perbedaan emisi juga terlihat jelas dalam sektor transportasi. Studi tersebut menunjukkan bahwa laki-laki lebih sering menggunakan kendaraan pribadi dibanding perempuan, serta cenderung memilih kendaraan dengan konsumsi bahan bakar lebih tinggi.
Kebiasaan berkendara sendiri tanpa penumpang tambahan memperbesar jejak karbon perjalanan. Sebaliknya, perempuan dalam studi tersebut lebih sering menggunakan moda transportasi umum, berjalan kaki, bersepeda, atau berbagi kendaraan. Pilihan mobilitas ini secara langsung menurunkan emisi karbon yang dihasilkan.
Transportasi merupakan salah satu sektor penyumbang emisi terbesar di dunia. Oleh karena itu, perbedaan kecil dalam kebiasaan perjalanan sehari-hari dapat menghasilkan dampak besar dalam jangka panjang. Ketika dikombinasikan dengan pola konsumsi makanan, selisih gaya hidup ini menjelaskan mengapa jejak karbon rata-rata laki-laki lebih tinggi.
Peran Budaya dan Persepsi Maskulinitas
Penelitian ini tidak hanya berhenti pada data angka. Para peneliti juga mencoba menelusuri faktor sosial dan budaya yang memengaruhi perilaku konsumsi. Salah satu temuan penting adalah adanya hubungan antara konsep maskulinitas dengan preferensi terhadap aktivitas atau barang yang beremisi tinggi.
Dalam banyak budaya, mengonsumsi daging dalam porsi besar atau mengendarai mobil besar sering dikaitkan dengan citra kekuatan, status sosial, dan keberhasilan. Norma sosial semacam ini secara tidak langsung mendorong pilihan gaya hidup yang menghasilkan emisi lebih tinggi. Dengan kata lain, faktor budaya dapat memengaruhi keputusan individu yang berdampak pada lingkungan.
Fenomena ini tidak terbatas pada negara maju saja. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, peningkatan pendapatan masyarakat sering diikuti dengan peningkatan konsumsi daging dan kepemilikan kendaraan pribadi. Jika tren ini terus berlanjut tanpa kesadaran lingkungan, maka jejak karbon nasional berpotensi meningkat secara signifikan.
Ketimpangan Dampak: Perempuan Lebih Rentan
Ironi besar muncul ketika melihat siapa yang paling terdampak oleh krisis iklim. Meskipun penelitian menunjukkan laki-laki rata-rata menghasilkan emisi lebih tinggi, perempuan justru sering menghadapi risiko lebih besar akibat perubahan iklim, terutama di negara berpenghasilan rendah.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa perempuan dan anak-anak memiliki kemungkinan hingga 14 kali lebih tinggi untuk meninggal akibat bencana terkait iklim dibanding laki-laki. Selain itu, mereka juga mewakili sekitar 70 persen populasi pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah akibat bencana alam.
Beberapa faktor menjelaskan kondisi ini. Di banyak wilayah, perempuan memiliki akses lebih terbatas terhadap sumber daya ekonomi, pendidikan, dan pengambilan keputusan. Dalam situasi bencana, keterbatasan ini membuat mereka lebih sulit beradaptasi atau menyelamatkan diri. Tanggung jawab sebagai pengasuh keluarga juga sering membatasi mobilitas mereka saat keadaan darurat.
Mengapa Perspektif Gender Penting dalam Kebijakan Iklim
Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi pembuat kebijakan, aktivis lingkungan, dan praktisi keberlanjutan. Upaya mengatasi perubahan iklim tidak cukup hanya fokus pada teknologi hijau atau pengurangan emisi industri. Pendekatan yang efektif juga harus mempertimbangkan dimensi sosial, termasuk faktor gender.
Memahami perbedaan pola konsumsi antara laki-laki dan perempuan dapat membantu merancang kebijakan yang lebih tepat sasaran. Misalnya, kampanye pengurangan konsumsi daging atau promosi transportasi rendah emisi dapat disesuaikan dengan pendekatan komunikasi yang relevan bagi kelompok sasaran tertentu.
Selain itu, memperkuat posisi perempuan dalam pengambilan keputusan lingkungan dapat meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap dampak iklim. Ketika perempuan memiliki akses yang lebih besar terhadap pendidikan, sumber daya, dan kepemimpinan, kemampuan komunitas untuk menghadapi bencana dan perubahan lingkungan juga meningkat.
Strategi Perubahan Gaya Hidup
Para peneliti menilai bahwa mendorong gaya hidup rendah karbon di kalangan laki-laki dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam menekan emisi global. Upaya ini bisa dilakukan melalui kampanye kesadaran publik, edukasi lingkungan, serta perubahan norma sosial yang mengaitkan maskulinitas dengan perilaku ramah lingkungan, bukan konsumsi berlebihan.
Di sisi lain, kebijakan struktural tetap diperlukan. Regulasi transportasi, insentif kendaraan hemat energi, serta promosi makanan berkelanjutan dapat membantu masyarakat membuat pilihan yang lebih ramah lingkungan tanpa harus mengorbankan kenyamanan hidup.
Perubahan gaya hidup memang tidak terjadi dalam semalam. Namun sejarah menunjukkan bahwa norma sosial dapat berubah seiring waktu. Apa yang dulu dianggap simbol prestise bisa bergeser menjadi sesuatu yang tidak lagi relevan ketika kesadaran lingkungan meningkat.
Kesimpulan: Krisis Iklim dan Isu Keadilan
Penelitian tentang perbedaan emisi berdasarkan gender menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan ilmiah atau teknis. Ia juga merupakan isu sosial yang berkaitan dengan perilaku manusia, norma budaya, dan ketimpangan global.
Mengatasi perubahan iklim berarti memahami berbagai faktor yang memengaruhinya, termasuk bagaimana identitas dan kebiasaan individu membentuk jejak karbon. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap perbedaan sosial, solusi iklim dapat dirancang lebih efektif dan adil.
Pada akhirnya, perjuangan melawan krisis iklim bukan hanya soal menurunkan angka emisi, tetapi juga tentang menciptakan dunia yang lebih seimbang. Gender hanyalah salah satu aspek dari gambaran besar tersebut, namun ia menunjukkan dengan jelas bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Tuna55