You are currently viewing Dua Ton Red Devil Perusak Ekosistem Danau Batur Bali Diolah Menjadi Tepung Ikan

Dua Ton Red Devil Perusak Ekosistem Danau Batur Bali Diolah Menjadi Tepung Ikan

Dua Ton Red Devil Perusak Ekosistem Danau Batur Bali Diolah Menjadi Tepung Ikan – Danau Batur di Bali kembali menjadi sorotan setelah penangkapan massal ikan red devil yang jumlahnya mencapai dua ton. Ikan ini dikenal sebagai spesies invasif yang mengancam keseimbangan ekosistem perairan karena memangsa ikan lokal dan mengganggu mata pencaharian nelayan.

Fenomena ini bukan hal baru. Sejak beberapa tahun terakhir, red devil telah berkembang pesat di Danau Batur dan menyebabkan hasil tangkapan ikan komoditas utama menurun hingga sekitar 10 persen.

Dampak Dominasi Red Devil Perusak di Danau Batur

Ancaman bagi Biota Lokal

Penelitian menunjukkan Red Devil Perusak termasuk ikan predator invasif yang mampu mendominasi habitat dan menggantikan spesies asli. Bahkan di Danau Batur, populasinya diperkirakan mencapai 80 persen dari total ikan di perairan tersebut.
Dominasi ini berdampak besar karena red devil memakan bibit ikan lokal yang dibudidayakan masyarakat, khususnya ikan nila dan jenis air tawar lainnya.

Kerugian Ekonomi Nelayan

Selain merusak ekosistem, ikan ini juga menimbulkan kerugian ekonomi. Produksi ikan budidaya menurun karena predator tersebut menyerang ikan yang dipelihara di keramba jaring apung.

Dalam beberapa kasus, perbandingan populasi bahkan menunjukkan dominasi ekstrem: delapan red devil berbanding dua ikan nila.

Operasi Penangkapan Massal

Kolaborasi Pemerintah dan Nelayan

Penangkapan dua ton red devil dilakukan melalui aksi pengendalian yang melibatkan pemerintah daerah, dinas perikanan, lembaga riset, serta kelompok nelayan.

Program ini merupakan tindak lanjut kajian ilmiah yang menyatakan bahwa red devil telah menjadi ancaman serius bagi kelangsungan biota asli Danau Batur.

Target Penangkapan Lebih Besar

Jumlah dua ton sebenarnya belum mencapai target maksimal. Jika cuaca mendukung, penangkapan diperkirakan bisa mencapai lima ton dalam satu minggu.

Bahkan warga sekitar danau mengaku mampu menangkap sekitar satu ton per minggu secara rutin jika program berkelanjutan dijalankan.

Pemanfaatan Menjadi Tepung Ikan

Solusi Lingkungan dan Ekonomi

Hasil tangkapan red devil tidak dibuang, melainkan dikirim ke pabrik pengolahan di Pengambengan, Jembrana untuk dijadikan tepung ikan.
Pemanfaatan ini dianggap solusi efektif karena selain mengurangi populasi predator invasif, hasilnya juga memiliki nilai ekonomi. Harga red devil sekitar Rp2.000 per kilogram sehingga dapat menjadi tambahan penghasilan masyarakat.

Kandungan Nutrisi Tinggi

Secara ilmiah, ikan red devil memiliki kandungan protein cukup tinggi, sekitar 35 persen, sehingga cocok diolah menjadi pakan ikan atau ternak.
Karena rasanya kurang diminati sebagai konsumsi manusia, pengolahan menjadi pakan dinilai lebih optimal dan tidak menimbulkan limbah.

Upaya Jangka Panjang Menyelamatkan Danau Batur

Program penangkapan massal bukan hanya aksi sesaat, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menekan populasi spesies invasif. Pemerintah berharap kegiatan ini dapat menjadi contoh agar masyarakat rutin menangkap red devil sehingga jumlahnya semakin berkurang.
Danau Batur sendiri merupakan aset ekologis penting dengan nilai strategis bagi lingkungan, sosial, dan ekonomi, sehingga perlindungannya menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

Penangkapan dua ton ikan red devil di Danau Batur menunjukkan langkah nyata pengendalian spesies invasif yang merusak ekosistem. Program ini tidak hanya bertujuan melindungi keanekaragaman hayati dan mengembalikan keseimbangan populasi ikan lokal, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pengolahan hasil tangkapan menjadi tepung ikan.

Upaya kolaboratif antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat Tuna55 menjadi kunci keberhasilan program ini. Jika dilakukan secara konsisten, penangkapan dan pemanfaatan red devil berpotensi mengembalikan ekosistem Danau Batur sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Leave a Reply