Buka Puasa dengan Hidangan Manis – Saat waktu berbuka tiba, banyak orang langsung memilih minuman atau makanan manis untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Tradisi ini memang sudah lama dikenal, bahkan kerap dianggap sebagai cara tercepat memulihkan tenaga. Namun, dokter spesialis gizi klinik dr. Karina Marcella Widjaja mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi gula secara berlebihan saat berbuka justru bisa berdampak kurang baik bagi tubuh.
Diskusi Kesehatan Soal Puasa di Jakarta
Dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta pada Kamis, 12 Februari 2026, Karina menjelaskan bahwa lonjakan gula darah dapat terjadi dengan cepat ketika seseorang langsung mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula. Kondisi ini memang membuat tubuh terasa segar seketika, tetapi efeknya tidak bertahan lama. Setelah naik drastis, kadar gula darah biasanya turun dengan cepat, sehingga tubuh kembali merasa lapar dalam waktu singkat. Situasi inilah yang sering memicu keinginan makan terus-menerus atau dikenal sebagai craving.
Menurutnya, fenomena tersebut banyak terjadi karena menu berbuka yang populer di masyarakat sering kali mengandung gula tinggi, seperti minuman sirup, es campur, atau hidangan buah yang dicampur pemanis tambahan dan susu kental manis. Kombinasi bahan tersebut membuat asupan gula meningkat tajam hanya dalam satu kali konsumsi.
Buka Puasa di Sarankan Dilakukan Secara Bertahap
Karina menyarankan agar berbuka puasa dilakukan secara bertahap, bukan langsung dengan porsi besar atau makanan berat. Langkah pertama yang dianjurkan adalah mengonsumsi makanan ringan yang mudah dicerna tubuh. Beberapa pilihan yang disarankan antara lain yogurt, kurma, atau buah-buahan dengan kandungan gula alami yang tidak terlalu tinggi. Contoh buah yang baik untuk pembuka puasa meliputi apel, pir, melon, dan alpukat karena indeks glikemiknya relatif lebih stabil dibanding buah yang sangat manis.
Setelah mengonsumsi makanan ringan, tubuh sebaiknya diberi jeda sekitar 30 menit sebelum makan utama. Waktu jeda ini penting agar sistem pencernaan tidak langsung bekerja terlalu berat setelah seharian kosong. Selain itu, jeda juga membantu tubuh menyesuaikan kembali kadar gula darah secara lebih stabil.
Untuk menu utama, Karina menekankan pentingnya komposisi gizi yang seimbang. Hidangan sebaiknya mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, protein untuk memperbaiki dan menjaga jaringan tubuh, sayuran sebagai sumber serat dan vitamin, serta lemak sehat yang membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Kombinasi nutrisi ini tidak hanya menjaga stamina selama Ramadan, tetapi juga mencegah makan berlebihan setelah berbuka.
Pentingnya Cairan Untuk Kebutuhan Tubuh
Selain memperhatikan jenis makanan, kebutuhan cairan juga tidak boleh diabaikan. Selama berpuasa, tubuh kehilangan cairan dalam waktu yang cukup lama, sehingga penting untuk menggantinya secara bertahap setelah berbuka hingga waktu sahur. Kurang minum dapat menyebabkan dehidrasi ringan, yang ditandai dengan tubuh terasa lemas, pusing, dan sulit berkonsentrasi.
Karina juga menyoroti pentingnya pola tidur yang cukup selama bulan puasa. Kebiasaan begadang dapat membuat tubuh mudah lelah dan mengganggu ritme bangun sahur. Jika waktu istirahat berkurang, daya tahan tubuh bisa menurun dan aktivitas harian menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, menjaga jadwal tidur tetap teratur menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat selama Ramadan.
Dalam kondisi tertentu, terutama jika asupan makanan kurang optimal atau aktivitas sangat padat, konsumsi suplemen dapat dipertimbangkan. Vitamin seperti C, D, dan B kompleks serta mineral zinc dapat membantu mendukung sistem imun. Meski begitu, penggunaan suplemen sebaiknya tetap disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan, bila perlu, dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Selain berbuka, waktu sahur juga memegang peran penting dalam menjaga stamina sepanjang hari. Karina mengingatkan agar sahur tidak dilewatkan karena merupakan sumber energi utama selama puasa. Menu sahur idealnya mengandung karbohidrat kompleks, protein hewani maupun nabati, serta sayur agar tubuh mendapatkan nutrisi lengkap. Buah dapat ditambahkan sebagai camilan sekitar satu jam setelah makan utama untuk melengkapi kebutuhan vitamin dan mineral.
Pada akhirnya, pola makan yang tepat saat Ramadan bukan hanya soal apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana cara mengonsumsinya. Mengatur porsi, memilih jenis makanan dengan bijak, serta menjaga keseimbangan nutrisi dapat membantu tubuh tetap bugar sepanjang hari. Dengan mengikuti saran pakar gizi, tradisi berbuka puasa tetap bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan. Tuna55